Make your own free website on Tripod.com

Banyaknya pohon durian di Kabupaten yang dalam bahasa Bataknya disebut Tarutung membuat nama ibukota Kabupaten Tapanuli Utara menjadi Tarutung

                                                        

Sejarah SingkSat

 

Dahulu, Tapanuli Utara luasnya 10.605,30 Kmē terdiri dari 29 kecamatan. Sejak 16 Maret 1999 luasnya menjadi 6.061,85 Kmē dengan 18 kecamatan.Perubahan luas geografis itu dalam rangka pemekaran wilayah, melahirkan Kabupaten Toba Samosir

Tapanuli utara kini telah banyak berubah, secara geografis, sosial dan ekonomi sesuai dengan dinamika dan perkembangan masyarakat. Hamparan kekayaan dan keindahan alam dengan bukit-bukit dan lembahnya merupakan gambaran yang memperkaya karakter masyarakat Tapanuli Utara disamping latar belakang budaya daerah. Hal inilah yang mendorong munculnya judul " Tapanuli Utara, Kehidupan Baru di Perbukitan & Lembah "

Perubahan kehidupan di Tapanuli Utara merupakan  suatu rangkaian proses yang direncanakan. Di lain pihak, kehidupan baru wilayah ini amat ditentukan oleh berbagai hal dalam dinamika kehidupan masyarakat itu sendiri seperti : krisis ekonomi dan keuangan, adat dan kebiasaan hidup rakyat- obrolan di tingkat lapo tuak, budaya perbedaan pendapat, serta perdebatan soal agama. Bahkan memulai kehidupan yang produktif dengan meninggalkan kehidupan yang tidak menghargai waktu.

Agar keharmonisan faktor geografis dan demografis bisa mendorong terciptanya kehidupan baru yang lebih baik di Tapanuli Utara, maka R.E.Nainggolan, yang menjadi Bupati Tapanuli Utara sejak 8 April 1999, secara tegas merumuskan wujud wilayah ini pada posisi yang seharusnya, yaitu dalam visi yang akan menjadikan Tapanuli Utara atau tanah leluhur atau bona pasogit orang Batak sebagai daerah pertanian, industri, wisata rohani, serta daerah yang indah dan sejahtera di tahun 2004.

 

Untuk mewujudkannya, telah diterapkan Matra Bona Pasogit (Lima Strategi) yaitu, pertama, meningkatkan kesejahteraan

masyarakat dan kualitas Sumber Daya Manusia. Kedua, meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan Sumber Daya Alam.

Ketiga, mempercepat pembangunan infrastruktur. Keempat, mengajak para investor menanamkan modalnya di Tapanuli

Utara. Kelima, meningkatkan kemampuan aparat dalam memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

 

Semua pihak peduli terhadap munculnya kehidupan baru di Tapanuli Utara, diantaranya Ketua Lembaga Dalihan Na Tolu

M.A. Tobing, yang berpendapat bahwa untuk menghadirkan kehidupan baru di Tapanuli Utara, semua potensi Sumber Daya

Manusia dan Alam yang ada, perlu digali untuk mengubah kualitas kehidupan masyarakat. Untuk itu, harus diciptakan

iklim yang kondusif antara investor dengan masyarakat Tapanuli Utara, agar kedua pihak sama-sama memperoleh ke

untungan. Disamping itu, juga diperlukan adanya sikap saling terbuka antara para investor dan masyarakat Tapanuli

Utara.

 

Pendapat senada juga dikemukakan oleh Ezra Sinaga, mantan anggota DPRD Tk. II Tapanuli Utara, bahwa untuk dapat

menyejahterakan masyarakat Tapanuli Utara, harus mengembangkan segala potensi yang dimiliki. Misalnya, sektor

agrobisnis, panas bumi, wisata rohani serta menjalin kerja sama dengan kalangan akademis maupun praktisi bisnis dalam

upaya miningkatkan kapasitas produksi dan pemasaran, seperti rotan dan kemenyan.